The Symposium of ICNERE 2014

One of the important events for the researchers is a scientific conference, in which the researchers share their expertise and experiences  on research activities and built the networking among the researchers. It is therefore to intensify the event, University of Indonesia (UI) and Shizuoka University (SU) initiate a join conference on nano electronics research and education and it is defined as International Conference on Nano Electronics Research and Education (ICNERE). ICNERE is a bi-annual conference, the first ICNERE was organized in Bali-Indonesia in 2012 hosted by UI, and the second is organized by in Hamamatsu-Japan hosted by SU. The third ICNERE will be back in Indonesia hosted by UI in 2016, and the forth ICNERE will be in Japan again hosted by SU, and repeatedly bi-annually. The ICNERE is an open conference, meaning that participants are also from other universities beside UI and SU.

 

The 2nd International Conference on Nano Electronics Research and Education (ICNERE 2014).

ICNERE 2014, Hamamatsu Campus, Shizuoka University.

Greeting from the President of Shizuoka University

Greeting From The President of Shizuoka University.

Official Greeting from The Rector of Universitas Indonesia

Official Greeting From The Rector of Universitas Indonesia.

Welcome from General Chair

Welcome From ICNERE 2014 General Chair.

Official Greeting from the Faculty of Engineering, University of Indonesia

Official Greeting From The Faculty of Engineering, UI.

Professors from Indonesia and Committee Members have a meeting

The Professors Meeting.

Professor Masbah RT Siregar of LIPI, Indonesia

Presentation of Prof. Masbah RT Siregar.

Presentation of Dr. Daniel Moraru

Presentation of Dr. Daniel Moraru.

 Anak Agung Ngurah Gde Sapteka

My Presentation.

The pictures above are taken by Prof. Masaru Shimomura.

Here is a link to ICNERE 2016.

https://sapteka.wordpress.com/2016/11/12/joint-international-conference-icnere-and-eeccis-2016/ Continue reading

Advertisements

Cerita Tentang Pembuatan Peta Politeknik Negeri Bali (PNB)

Sebulan yang lalu saya ingin membuat peta digital Politeknik Negeri Bali (PNB) yang benar-benar baru dan berbeda. Tapi apa boleh buat, para guru besar memberi tugas-tugas harus didahulukan untuk dikerjakan. Saya juga diminta ke Denpasar untuk membantu Karang Taruna Satya Mahardika dalam lomba karang taruna kota Denpasar. Selain itu diperlukan banyak waktu ke PNB untuk melaporkan Penugasan Kembali serta mengajukan ijin Tugas Belajar S3 di Universitas Indonesia (UI). Sekembalinya ke Jakarta, kampus UI memberikan semangat baru untuk menyelesaikan peta ini. Sebagai mahasiswa S3 Teknik Elektro, saya memperoleh ruangan kerja tersendiri yang tenang, full ac, dengan dukungan koneksi internet kampus berkecepatan tinggi yang mampu mengakses berbagai jurnal internasional, bertempat di Gedung Engineering  Center FTUI . Pada ruangan ini juga disediakan water dispenser beserta teh, gula, dan kopi. Sungguh nyaman untuk berpikir dan bekerja dalam waktu lama. Kami menyebutnya ruang KD (Kandidat Doktor). Peta ini dibuat selama beberapa hari di ruang KD dengan konsekuensi pulang ke tempat kost yang semakin malam. Untunglah ada teman-teman yang bisa diajak pulang malam bersama, mengingat bis kuning UI, kendaraan dinas saya di UI, hanya beroperasi hingga pukul 21.00 WIB. Pernah saya merenung di ruang KD membayangkan selama belasan tahun saya bekerja sebagai di PNB, tidak juga dapat ruangan untuk bekerja  secanggih ini. Mungkin karena itu saya jadi jarang ke PNB dan lebih suka kerja sosial. Di Bali, kegiatan sosial kemasyarakatan sangat menarik bagi saya, sehingga saya pernah menjadi prajuru Banjar Catur Panca, lalu pernah ditugaskan sebagai pangemong Pura Jlih Lambih Pekambingan, serta juga dulu pernah aktif mengurus pecalang Tri Jaga Mandala, dan sekarang masih menjabat bendahara LPM Kelurahan Dauh Puri.  Aneh memang, karena sudah jelas pekerjaan sosial ini, PRnya banyak, tapi Rpnya sedikit. Malah sering harus keluar dari kantong sendiri. Lho, katanya cerita tentang Pembuatan Peta PNB, kenapa malah cerita  begini-begitu? Singkat cerita, setelah mencoba dengan berbagai cara, peta digital ini berhasil saya selesaikan walaupun masih perlu disempurnakan mengingat ada beberapa ruangan dan gedung di PNB yang hingga saat ini belum pernah saya kunjungi. Hasilnya dapat dilihat melalui link ini:

Link ke Peta Politeknik Negeri Bali

Mohon maaf jika ada bagian tulisan ini yang tidak berkenan di hati. Semoga peta ini bermanfaat untuk mengenalkan PNB kepada masyarakat melalui media internet.

Terima kasih kepada Dewa Gede Agus Tri Putra dan Fajar Surya Herlambang yang telah melengkapi informasi untuk peta  PNB ini. Juga untuk teman-teman yang telah melewati waktu bersama di Ruang KD, Gedung Engineering  Center FTUI.

Salam hormat saya kepada seluruh civitas akademika Politeknik Negeri Bali,

Anak Agung Ngurah Gde Sapteka.

Link ke Peta Politeknik Negeri Bali

—————————————————-0OOO0—————————————————-

di bawah ini merupakan space iklan yang diisi secara otomatis oleh WordPress, bukan oleh saya…Terima kasih WordPress.

Avalanche Photodiode (APD) Animation

This animation describes about an electronic device called Avalanche Photodiode (APD). The device is used to detect visible light by calculating the penetration depth of light, the concentration of its building block (layers) and the effect of dead space. The design of this APD device consists of five layers, namely p1+  layer, pi layer, p2+ layer, n layer and n+ substrate layer, with two regions of electric field, the drift region and the multiplication region (MR). The design takes advantage of the electric field with a range of 1.75 x 105 – 6.40 x 105 V cm-1 at the MR to cause avalanche phenomena. You can find the animation here  http://sapteka.net/?page_id=103

Loteng Pesanggrahan

This post is part of  Site Map of Puri Denpasar.


Loteng Pesanggrahan (read lo – téng – pe – säng – gräh – än) positioned at the east of Jeroning Ancak Saji. There was a two-stories building here where the guest who visited Puri Denpasar stay. At that time, two-stories building like Loteng Pesanggrahan was very rare in Denpasar. Beside the building, there was a well supplied a good quality of water and also three stables so the guest could place their horses here. The site map of Loteng Pesanggrahan of Puri Denpasar is shown below.

Jeroning Ancak Saji

This post is part of  Site Map of Puri Denpasar.

Jeroning Ancak Saji (read je – ro – nïng än – cäk sä – jï) was the first yard of the palace. There were 4 units of Bale (read Bä – lé) here, 1 unit of well, and 1 unit of high building at south-west Corner called Panggungan (read päng – gung – än). The Panggungan was equipped with some steps made from stone. The King or Cokorda (read Co – kor- de) usually went to Panggungan in the evening to watch the cockfighting, and the people who pass the road. The position was very strategic because it was located at the corner of the cross road to Kesiman, Sanur, Sesetan and Pamecutan. It’s also near from marketplace. So, at that time, Panggungan was one of many favourite places for Cokorda Denpasar to visit.

The picture below described the layout of Jeroning Ancak Saji. The area was about 46.50 m by 45.50 m.  At north, there was an entrance gate to Taman Narmada. At east, there was an entrance gate (Sawangan Kembar) to Loteng Pesanggrahan.

Site Map of Puri Denpasar in Year 1906

Puri (read pu – rï) means balinese palace where the king and his family lives and rules his kingdom. Denpasar (read Den – pä – sär) is one of many kingdoms in Bali. So, Puri Denpasar means the palace of the king of Denpasar. It was located in the centre of Denpasar City. It was? Yes, because this old Puri was destroyed by Dutsch while they conquer the Kingdom of Denpasar in year 1906. Now in this site has been built as the residential of Governor of Bali in Surapati Street, Denpasar, Bali.

The Puri Denpasar has 171 meters length and 158 meters width. It has a thick wall, about 1,5 meters and 6 meters height. To enter the Puri, there are two dignified gates at west and south side of it. Inside it, the yards are separated by walls.The buildings were built from stones. Many of them have their own verandah. A lot of buildings in this palace and also a beautiful park called Taman Narmada.


Do you want to see and have more information about Puri Denpasar? Click here to enter the entrance gate.

Kunjungan Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali (PNB) ke Nusa Penida

Blog ini merupakan dokumentasi kegiatan kunjungan dosen Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali ke Nusa Penida yang dilaksanakan pada bulan April 2008. Para dosen yang berjumlah 13 orang dipimpin oleh Bapak Made Sajayasa, Ketua Jurusan Teknik Elektro PNB.  Tujuan kunjungan ini adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang energi yang terbarukan di Nusa Penida, khususnya tentang pembangkit listrik angin dan surya.

Kami berangkat dari Kota Denpasar pada pukul 07.00 menuju Pelabuhan Padang Bai melalui Bypass Ida Bagus Mantra. Setelah berkendara selama 90 menit , tibalah kami di Pelabuhan Padang Bai. Berikut ini beberapa foto suasana di Pelabuhan Padang Bai dan saat naik boat Dirga Yusa menuju Nusa Penida.

Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Padang Bai

Boat Dirga Yusa

Menunggu Keberangkatan Boat

Menunggu Keberangkatan Boat

Juru Mudi Boat

Juru Mudi Boat

Melintasi Selat Badung

Melintasi Selat Badung

Setelah menempuh perjalanan laut melintasi Selat Badung ini sekitar 45 menit, pelabuhan Nusa Penida mulai tampak. Boat merapat ke dermaga. Selain boat juga terdapat jukung yang berlabuh disini.

Pelabuhan Nusa Penida

Pelabuhan Nusa Penida

Suasana Pelabuhan Nusa Penida

Suasana Pelabuhan Nusa Penida

Jukung di Pelabuhan Nusa Penida

Jukung di Pelabuhan Nusa Penida

Perjalanan dilanjutkan dengan mencharter kendaraan ke Puncak Mundi, Desa Klumpu, tempat dimana pembangkit tenaga surya dan angin berada. Puncak Mundi merupakan tempat tertinggi di Nusa Penida, kurang lebih 500 meter dari permukaan laut. Jalan menuju ke Bukit Mundi berliku-liku dan banyak tanjakan terjal.

Pembangkit listrik tenaga angin terdapat tiga unit yang dibangun PLN berkekuatan masing-masing 85 kilowatt (KW) dan empat unit lainnya berkekuatan 80 KW. Pembangkit ini menggunakan rotor berdiameter 18 meter dengan 2 unit blade yang ditempatkan pada suatu tower dengan ketingggian 31 meter.  Kecepatan putaran rotor berkisar antara 30 – 120 rpm. Kecepatan angin nominal sebesar 12,5 meter/detik. Pembangkit akan cut-in pada kecepatan angin 3 meter/detik dan cut-off pada kecepatan angin 25 meter/detik. Pembangkit dapat bertahan hingga kecepatan angin 50 meter/detik.

Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Memasuki Gardu Pembangkit Tenaga Angin

Memasuki Gardu Pembangkit Tenaga Angin

Sistem Kendali PLC

Sistem Kendali PLC

Pembangkit tenaga surya di Puncak Mundi berkapasitas daya 32 KWh yang diinterkoneksikan dengan jaringan PLN. Modul sel surya yang digunakan buatan bp solar model BP3150N yang mampu menghasilkan tegangan DC 34,5 Volt dengan arus 4,35 Ampere. Modul-modul ini dihubungkan ke photovoltaic string inverter sehingga mampu menghasilkan listrik VAC nominal 230 Volt, frekuensi 50/60 Hz, IAC nomimal 27,1 Ampere, Cos phi = 1, dan daya AC nomimal sebesar 5000 W.

Dokumentasi selengkapnya tentang kunjungan ini dapat dilihat pada slideshare dibawah ini.

Untuk mengetahui lokasi Politeknik Negeri Bali, dapat dilihat pada link ini.

Lapangan Upacara – Politeknik Negeri Bali (PNB)

Lab Elektronika; Lab Mikroprosesor & Sistem Kendali – Jurusan Teknik Elektro – Politeknik Negeri Bali (PNB)