STUDI BANDING LABORATORIUM (KUNJUNGAN DOSEN JTE PNB KE PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK LISTRIK JTE PNUP)


Studi Banding ini dilaksanakan pada tanggal 7-9 Desember 2016 dengan pelaksana sebanyak 4 (empat) orang dosen Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali yakni: Kadek Amerta Yasa, ST, MT; I Gusti Putu Arka, ST, MT; I Made Purbhawa, ST, MT dan Dr. Anak Agung Ngurah Gde Sapteka. Studi Banding ini berlokasi di Program Studi Diploma IV Teknik Listrik, Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Sulawesi Selatan dengan maksud untuk memperoleh informasi mengenai peralatan laboratorium dan pelaksanaan praktikum di D IV Teknik Elektro, Politeknik Negeri Ujung Pandang. Informasi tentang peralatan laboratorium dan pelaksanaan praktikum ini diperlukan untuk mempersiapkan Jurusan Teknik Elektro (JTE), Politeknik Negeri Bali (PNB) dalam melaksanakan Program Studi Diploma IV Teknik Otomasi yang akan dilaksanakan pada Tahun Ajaran 2017/2018.

Berangkat studi banding bersama Kadek Amerta Yasa, I Gusti Putu Arka dan I Made Purbhawa.

Perjalanan ke lokasi Studi Banding dilakukan melalui jalur udara dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros, Sulawesi Selatan yang ditempuh selama 1 jam 15 menit.

Kunjungan Studi Banding Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali ke Politeknik Negeri Ujung Pandang

Setiba di Kota Makassar (Ujung Pandang), selanjutnya pelaksana mempersiapkan diri dan tinggal di Hotel Swiss-BelHotel Makassar sebelum menuju ke Politeknik Negeri Ujung Pandang yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan. Lokasi kampus Politeknik Negeri Ujung Pandang berada dalam satu area dengan kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) mengingat sejarah pendiriannya merupakan bagian dari Unhas pada tahun 1987 dengan nama Politeknik Universitas Hasannudin, yang selanjutnya berdiri sendiri pada tahun 1996/1997 dengan nama Politeknik Negeri Ujung Pandang. Politeknik ini memiliki 2 buah kampus, yaitu Kampus I Tamalanrea dan Kampus II BTP. Kampus I terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10, sedangkan Kampus II terletak di Jl. Tamalanrea Raya (BTP). Pada saat ini, Kampus II Politeknik Negeri Ujung Pandang masih dalam tahap proses pembangunan.Kami sebagai pelaksana studi banding diterima oleh Ibu Dr. Hafsah Nirwana, Ketua Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). Beliau menjelaskan bahwa Teknik Elektro PNUP memiliki 6 Program Studi yang terdiri dari 3 Program Studi D IV dan 3 Program Studi D III yakni:

  • D IV Teknik Listrik,
  • D IV Teknik Komputer & Jaringan,
  • D IV Teknik Multimedia & Jaringan,
  • D III Teknik Listrik,
  • D III Teknik Telekomunikasi,
  • D III Teknik Elektronika.

Ketua Jurusan  juga memperkenalkan kami kepada para Ketua Program Studi di lingkungan Jurusan Teknik Elektro PNUP. Pada acara ramah tamah ini dilakukan pertukaran cenderamata.

Studi Banding ke Diploma IV Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang. Tukar menukar cenderamata dengan Ibu Kajur Teknik Elektro, Dr Hafsah Nirwana. Bersama Kadek Amerta Yasa, I Gusti Putu Arka dan I Made Purbhawa.

Program Studi Diploma IV Teknik Listrik PNUP secara resmi berdiri sejak tanggal 24 Januari 2011 berdasarkan SK Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional No : 24/D/O/2011. Adapun hal yang melatarbelakangi penyelenggaraan Program Diploma IV Teknik Listrik di Politeknik Negeri Ujung Pandang sebagai berikut: Banyaknya permintaan pasar terhadap karyawan yang lulus dengan kualifikasi   kompetensi bidang teknik listrik dengan level diploma IV; Belum adanya institusi pendidikan di Kawasan Timur Indonesia yang melaksanakan jalur pendidikan vokasi program diploma IV bidang teknik listrik; Adanya masalah krisis energi listrik di Kawasan Timur Indonesia terutama Sulawesi Selatan yang sangat membutuhkan tenaga engineer Teknik Listrik; Keputusan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 2052/K/40/MEM/2001 tentang standarisasi kompetensi ketenagalistrikan; Sudah terlaksananya MOU antara Politeknik Negeri Ujung Pandang dengan stakeholder di antaranya PT PLN (Persero) Wilayah SULSELRABAR, IATKI Wilayah SULSELRABAR, PT Semen Tonasa.

Untuk mendukung pelaksanaan perkuliahan D IV Program Studi Teknik Listrik, telah disiapkan beberapa laboratorium di lokasi Kampus I dan Kampus II. Adapun laboratorium yang tersedia antara lain:

1. Laboratorium Mesin-Mesin Listrik.
2. Laboratorium Otomasi Industri.
3. Laboratorium Sistem Tenaga Listrik.
4. Laboratorium Pengukuran Dasar.
5. Laboratorium Elektronika Digital dan Mikrokontroler.
6. Laboratorium Tegangan Menengah.
7. Bengkel Mekanik.
8. Bengkel Instalasi Tenaga Listrik.

Transmission and Distribution Line Model

Mesin Boiler di Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang

Dokumentasi kunjungan dapat diakses melalui link https://www.flickr.com/photos/sapteka/albums/72157674324182704

Laporan Studi Banding dalam format pdf dapat diakses melalui link

Laporan Pelaksanaan Studi Banding Laboratorium di Jurusan Teknik Elektro (JTE) Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP)

atau link berikut
https://drive.google.com/file/d/0B3EJmXc11M2Oc1k5UGdCUkFBYkk/view?usp=sharing

 


 

Cerita Tentang Pembuatan Peta Politeknik Negeri Bali (PNB)

Sebulan yang lalu saya ingin membuat peta digital Politeknik Negeri Bali (PNB) yang benar-benar baru dan berbeda. Tapi apa boleh buat, para guru besar memberi tugas-tugas harus didahulukan untuk dikerjakan. Saya juga diminta ke Denpasar untuk membantu Karang Taruna Satya Mahardika dalam lomba karang taruna kota Denpasar. Selain itu diperlukan banyak waktu ke PNB untuk melaporkan Penugasan Kembali serta mengajukan ijin Tugas Belajar S3 di Universitas Indonesia (UI). Sekembalinya ke Jakarta, kampus UI memberikan semangat baru untuk menyelesaikan peta ini. Sebagai mahasiswa S3 Teknik Elektro, saya memperoleh ruangan kerja tersendiri yang tenang, full ac, dengan dukungan koneksi internet kampus berkecepatan tinggi yang mampu mengakses berbagai jurnal internasional, bertempat di Gedung Engineering  Center FTUI . Pada ruangan ini juga disediakan water dispenser beserta teh, gula, dan kopi. Sungguh nyaman untuk berpikir dan bekerja dalam waktu lama. Kami menyebutnya ruang KD (Kandidat Doktor). Peta ini dibuat selama beberapa hari di ruang KD dengan konsekuensi pulang ke tempat kost yang semakin malam. Untunglah ada teman-teman yang bisa diajak pulang malam bersama, mengingat bis kuning UI, kendaraan dinas saya di UI, hanya beroperasi hingga pukul 21.00 WIB. Pernah saya merenung di ruang KD membayangkan selama belasan tahun saya bekerja sebagai di PNB, tidak juga dapat ruangan untuk bekerja  secanggih ini. Mungkin karena itu saya jadi jarang ke PNB dan lebih suka kerja sosial. Di Bali, kegiatan sosial kemasyarakatan sangat menarik bagi saya, sehingga saya pernah menjadi prajuru Banjar Catur Panca, lalu pernah ditugaskan sebagai pangemong Pura Jlih Lambih Pekambingan, serta juga dulu pernah aktif mengurus pecalang Tri Jaga Mandala, dan sekarang masih menjabat bendahara LPM Kelurahan Dauh Puri.  Aneh memang, karena sudah jelas pekerjaan sosial ini, PRnya banyak, tapi Rpnya sedikit. Malah sering harus keluar dari kantong sendiri. Lho, katanya cerita tentang Pembuatan Peta PNB, kenapa malah cerita  begini-begitu? Singkat cerita, setelah mencoba dengan berbagai cara, peta digital ini berhasil saya selesaikan walaupun masih perlu disempurnakan mengingat ada beberapa ruangan dan gedung di PNB yang hingga saat ini belum pernah saya kunjungi. Hasilnya dapat dilihat melalui link ini:

Link ke Peta Politeknik Negeri Bali

Mohon maaf jika ada bagian tulisan ini yang tidak berkenan di hati. Semoga peta ini bermanfaat untuk mengenalkan PNB kepada masyarakat melalui media internet.

Terima kasih kepada Dewa Gede Agus Tri Putra dan Fajar Surya Herlambang yang telah melengkapi informasi untuk peta  PNB ini. Juga untuk teman-teman yang telah melewati waktu bersama di Ruang KD, Gedung Engineering  Center FTUI.

Salam hormat saya kepada seluruh civitas akademika Politeknik Negeri Bali,

Anak Agung Ngurah Gde Sapteka.

Link ke Peta Politeknik Negeri Bali

—————————————————-0OOO0—————————————————-

di bawah ini merupakan space iklan yang diisi secara otomatis oleh WordPress, bukan oleh saya…Terima kasih WordPress.

Kunjungan Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali (PNB) ke Nusa Penida

Blog ini merupakan dokumentasi kegiatan kunjungan dosen Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali ke Nusa Penida yang dilaksanakan pada bulan April 2008. Para dosen yang berjumlah 13 orang dipimpin oleh Bapak Made Sajayasa, Ketua Jurusan Teknik Elektro PNB.  Tujuan kunjungan ini adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang energi yang terbarukan di Nusa Penida, khususnya tentang pembangkit listrik angin dan surya.

Kami berangkat dari Kota Denpasar pada pukul 07.00 menuju Pelabuhan Padang Bai melalui Bypass Ida Bagus Mantra. Setelah berkendara selama 90 menit , tibalah kami di Pelabuhan Padang Bai. Berikut ini beberapa foto suasana di Pelabuhan Padang Bai dan saat naik boat Dirga Yusa menuju Nusa Penida.

Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Padang Bai

Boat Dirga Yusa

Menunggu Keberangkatan Boat

Menunggu Keberangkatan Boat

Juru Mudi Boat

Juru Mudi Boat

Melintasi Selat Badung

Melintasi Selat Badung

Setelah menempuh perjalanan laut melintasi Selat Badung ini sekitar 45 menit, pelabuhan Nusa Penida mulai tampak. Boat merapat ke dermaga. Selain boat juga terdapat jukung yang berlabuh disini.

Pelabuhan Nusa Penida

Pelabuhan Nusa Penida

Suasana Pelabuhan Nusa Penida

Suasana Pelabuhan Nusa Penida

Jukung di Pelabuhan Nusa Penida

Jukung di Pelabuhan Nusa Penida

Perjalanan dilanjutkan dengan mencharter kendaraan ke Puncak Mundi, Desa Klumpu, tempat dimana pembangkit tenaga surya dan angin berada. Puncak Mundi merupakan tempat tertinggi di Nusa Penida, kurang lebih 500 meter dari permukaan laut. Jalan menuju ke Bukit Mundi berliku-liku dan banyak tanjakan terjal.

Pembangkit listrik tenaga angin terdapat tiga unit yang dibangun PLN berkekuatan masing-masing 85 kilowatt (KW) dan empat unit lainnya berkekuatan 80 KW. Pembangkit ini menggunakan rotor berdiameter 18 meter dengan 2 unit blade yang ditempatkan pada suatu tower dengan ketingggian 31 meter.  Kecepatan putaran rotor berkisar antara 30 – 120 rpm. Kecepatan angin nominal sebesar 12,5 meter/detik. Pembangkit akan cut-in pada kecepatan angin 3 meter/detik dan cut-off pada kecepatan angin 25 meter/detik. Pembangkit dapat bertahan hingga kecepatan angin 50 meter/detik.

Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Memasuki Gardu Pembangkit Tenaga Angin

Memasuki Gardu Pembangkit Tenaga Angin

Sistem Kendali PLC

Sistem Kendali PLC

Pembangkit tenaga surya di Puncak Mundi berkapasitas daya 32 KWh yang diinterkoneksikan dengan jaringan PLN. Modul sel surya yang digunakan buatan bp solar model BP3150N yang mampu menghasilkan tegangan DC 34,5 Volt dengan arus 4,35 Ampere. Modul-modul ini dihubungkan ke photovoltaic string inverter sehingga mampu menghasilkan listrik VAC nominal 230 Volt, frekuensi 50/60 Hz, IAC nomimal 27,1 Ampere, Cos phi = 1, dan daya AC nomimal sebesar 5000 W.

Dokumentasi selengkapnya tentang kunjungan ini dapat dilihat pada slideshare dibawah ini.

Untuk mengetahui lokasi Politeknik Negeri Bali, dapat dilihat pada link ini.

Lapangan Upacara – Politeknik Negeri Bali (PNB)

Lab Elektronika; Lab Mikroprosesor & Sistem Kendali – Jurusan Teknik Elektro – Politeknik Negeri Bali (PNB)

Waroeng Vegetarian di Djokdja – Vegetarian Restaurant in Yogyakarta – La Restaurant Végétarien à Yogyakarta

Kalaoe Toean dan Poean ada di Djokdja, djangan loepa oentoek mampir ke waroeng Milas di Djalan Prawirotaman IV Nomor 127B Djokdja. Antjer-antjer posisinja dari arah oetara, toean lewat Djalan Parangtritis sampai dekat Hotel Matahari. Laloei hotel ini sekitar 100 meter dan di sebelah kiri djalan toean akan dapatken Djalan Prawirotaman IV. Sementara djika toean datang dari selatan Djalan Parangtritis, tjarilah BNI di sebelah kiri djalan dan diseberangnja adalah Djalan Prawirotaman IV. Masoeklah ke djalan ketjil ini sekitar 100 m dan Waroeng Milas ada di sebelah kiri. Tjiri-tjirinja adalah pintoe masoek jang khas seperti gambar berikoet.

Waroeng ini soenggoeh aseri dengan bangoenan oetama terboeat dari bamboe aseli beserta keboen dan kolam ikan dengan air mantjoer. Soeasananja seperti di pedesaan. Tempatnja tjotjok sekali oentoek menghilangken rasa penat. Toean dan Poean silahken doedoek lesehan di salah satoe pondok jang ada. Waroeng ini dibuka setiap Hari Selasa – Joemat pada poekoel 15.00 – 21.00 WIB, Hari Sabtu – Minggu pada poekoel 12.00 – 21.00 WIB. Tatapi pada Hari Senin, waroeng ini toetoep.

Disini joega ada perpoestakaan jang menjediaken koleksi boekoe lebih dari 10 bahasa dan roeang bermain oentoek anak-anak. Siapa sadja jang tinggal di Djokdja, baik orang asing maoepoen warga lokal dapat mendjadi anggaoeta. Toejoean dari perpoestakaan Milas ini adalah oentoek menjediaken soember-soember boekoe dalam bidang sosial, kesehatan, lingkoengan dan pendidikan agar dapat didjangkaoe dan diakses dengan bebas oleh pembaca.

Sambil menoenggoe hidangan, toean dan poean dapat membatja koran, madjalah jang tersedia, sementara anak-anak dapat bermain di roeang bermain. Permainan jang digoenaken sebahagian besar terboeat dari kajoe dan meroepaken permainan edoekatif seperti Scrabbel, Stratego dan jang lainnja.

Di Waroeng Milas tersedia berbagai masakan vegetarian Indonesia maoepoen Barat jang diboeat dari bahan lokal dan organiek serta tidak menggoenaken MSG ataoe penjedap makanan instant. Semoea bahan disiapken dalam keadaan masih segar. Saoes tomat, mayonnaise dan selai diboeat sendiri di dapoer Milas.  Makanan keloearga yang baik oentoek kesehatan. Mengenai harga, oentoek masakan Indonesia ataoe Barat berkisar 15 sampai 17,5 riboe roepiah sadja, oentoek minoem air poetih es, toen tjoekoep bajar 1000 roepiah, sementara djika ingin minoem juice, kisaran harga sekitar 5000 sampai 8000 roepiah.  Toean dan Poean dapat tjoba berbagai matjam masakan vegetarian disini.

Mari kita mendjadi vegetarian oentoek membangoen kesadaran hidoep sehat dan kesadaran lingkoengan.

BeVeg, Go Green and Save The Planet.

Ditoelis oleh Sapteka, http://www.sapteka.net

Si Monsieur et Madame dans Yogyakarta, n’oubliez pas venir au restaurant Milas dans la rue Prawirotaman IV no. 127B Yogyakarta. Si vous arrivez à la rue Parangtritis par le nord, vous cherchez l’hôtel Matahari. Continuer 100 mètres au sud et vous trouverez la rue Prawirotaman IV sur la gauche. Mais, si vous arrivez à la rue Parangtritis par le sud, vous trouverez BNI sur la gauche. Vous traversez et vous trouvez la rue Prawirotaman IV. La porte du restaurant Milas, comme indiqué ci-dessous.

Il s’agit d’un beau restaurant avec le bâtiment principal est en bambou véritable et le jardin et étang avec une fontaine. L’ambiance est comme dans les campagnes. Parfait pour éliminer la sensation de fatigue. Monsieur et Madame s’il vous plaît s’asseoir les jambes croisées dans la cabane bambou. Le restaurant est ouvert tous les jours Mardi – Vendredi de 15:00 à 21:00, samedi – dimanche de 12:00 à 21:00. Mais lundi, le restaurant est fermé.

En attendant le repas, Monsieur et Madame peut lire les journaux ou magazines qui sont disponibles, tandis que les enfants peuvent jouer dans la salle de jeux. Jeux utilisés principalement en bois et les jeux éducatifs comme Scrabbel, Stratego, etc.

Milas restaurant offre une variété de cuisines végétariennes de l’Indonésie et l’Occident a également fait de matériaux locaux et organiques et n’utilisez pas de MSG ou des arômes alimentaires instantanés. Tous les ingrédients dans des plats préparés frais. Sauce tomate, mayonnaise et de la confiture fait maison dans la Milas cuisine. Le repas en famille, c’est bon pour la santé. En ce qui concerne le prix, a la cuisine Indonésie ou à la cuisine occidentale varie de 15 à 17,5 mille rupiah seulement, pour boire de l’eau glacée, alors que si vous voulez boire un jus, fourchette de prix autour de 5000 à 8000 rupiah. Monsieur et Madame pouvez essayer une variété de plats végétariens ici.

Laissez-nous devenir végétarien pour faire connaître le mode de vie sain et la sensibilisation environnementales.

Etre Végétarien, Allez Le Vert et Sauvez La Planète.

écrit par sapteka, http://www.sapteka.net

Vegetarian In Jakarta, Indonesia

When I visited Plaza Semanggi, I found a vegetarian restaurant named Loving Hut. It is located at 3A floor. The restaurant is very clean and cozy with TV set and sofa. As I sat down, the waitress came and brought the menu. Well, it was the first time for me to read a big and luxurious printed menu. After reading for a moment, I said to her that I would like to have Seven Seas Delight with Rice to dine and Energized Popeye Juice to drink. I also asked her to leave the menu on my table. After she walked away, I tried to take a photo of it and you can see it here.

The Menu of Loving Hut Jakarta

The Menu of Loving Hut Jakarta

After waiting for a moment she brought the dishes and juice. Then she pleased me to eat. After she left me, once again I took a photo of the dishes.

Seven Seas Delight with Rice

Seven Seas Delight with Rice

The taste is good. I like it very much. Thank’s God, Thou leads me to a healthy life.

On January 18, 2010, James Mauta and I went to Jakarta from Depok by train.  We stopped at Sawah Besar Station and headed to  Mudita Restaurant.  But we did not find it. We asked the residents around Jalan Batu Ceper and got information that the estaurant Mudita Vegetarian Restaurant had moved and changed its name to Xian He Vegetarian Restaurant. It is located on Jalan Alaydrus No.  39 Jakarta Pusat.  Phone number 021 63866049.  Here is the picture of Xian He Vegetarian Restaurant.

A vegetarian restaurant in Jakarta

A vegetarian restaurant in Jakarta

James Mauta and I asked for Hainam and “Seafood” Fried Rice.  It cost Rp. 16500 for Hainam Fried Rice and Rp. 14000 for “Seafood” Fried Rice.

Fried Rice at Xian He Vegetarian Restaurant

Fried Rice at Xian He Vegetarian Restaurant

Another vegetarian restaurant in Jakarta is Loving Hut Restaurant. It is located in Jalan Jatinegara Timur II.  Here are some photos of Loving Hut Jatinegara Vegetarian Restaurant and the foods served by.

Loving Hut Jatinegara Vegetarian Restaurant

Crunchy Roll

Ifu Mie

By Sapteka. http://www.sapteka.net

Kite Flying in Sanur Beach

On June 08, 2008, Rama and Krisna bought a new kite at Ketut Sumitha’s shop. The shop is located at Nusakambangan Street, in front of Erlangga Art Shop, Denpasar, Bali. They chose Be-bean type kite (a “fish”-form traditional kite). The kite was made from plastic with bamboo stick frame and it cost Rp 7,000. It was not a big one, but they didn’t know where to fly it. I told them to fly it in Sanur Beach since the wind was strong enough to fly the kite. They agreed to go to the beach and asked me to accompany them.

Sanur Beach has some entry points. We decided to enter the beach via Pantai Karang Street. Pantai Karang (Karang Beach) is our favorite place to visit in Sanur Beach. The Honorary Consulate of Hungary is also located in this street. We love this beach since it has a sea wave barrier, make it safe for us to swim. There is also a changing room with shower here.

Rama and I were swimming for a while at the beach while Krisna flews the kite alone. Krisna made a pivot string for kite and then he flew it easily since the wind was strong and its exact pivot point. The kite moved to left and right with balance. We loved to see our kite flying.

Well, I think Sanur Beach is also a good place for kite flying and Ketut Sumitha is a good kite maker.

By Sapteka, http://www.sapteka.net

The “Dewa Yadnya” Set – Collection Of Bali Museum

The term Dewa Yadnya means the religious ceremony dedicated to God in all of His manifestation which is carried out in a temple or other holy place. The Dewa Yadnya is one Panca Mahayadnya (Five Great Yadnya) as describes in Taittriya Aranyaka 2.10. The Dewa Yadnya in Bali includes the ceremonies such as Memungkah or Ngenteg Linggih, a ceremony performed when using a building for the first time or renovating a temple. Odalan, a ceremony performed every 210 days. Betara Turun Kabeh, a ceremony conducted every one year of Saka Calender. Panca Wali Krama , the ceremony dedicated to God every five years of Saka Calender. Eka Dasa Rudra, every 100 years of Saka Calender.

The Dewa Yadnya set – collection of Bali Museum consists of a number of Pratima (certain God statuettes), Pralingga (mythological of God’s vehicle), Janggawari (a construction used to lay down the Pratima in the purification procession ceremony towards the sea or water resources), and a few of pots to keep the Tirtha (Holy Water).

Dewa Yadnya Set

I will tell you about Pratima and Pralingga collected by Bali Museum. Some items of Pratima are: Rambut Sedana, Dewi Saraswati ( Goddess Saraswati ), and also Siwa and Durga Mounted On A Bull.

Rambut Sedana is a Pratima to worship the God of Wealth. It is assembled by chinese kepeng coins. Rambut Sedana is beloved by merchants.

The Pratima of Rambut Sedana

Dewi Saraswati is the Goddess of knowledge, music and art. The Pratima of Dewi Saraswati is worshiped to bless the holy scriptures and literatures being held by Hindu family. The adoration is also to protect and avoid the devotees from laziness and unawareness.

Pratima of Dewi Saraswati

Siwa and Durga Mounted on A Bull is another Pratima displayed at Bali Museum. In Hinduism, Siwa is one of the Trimurti ( the three primary aspects of divine ). According to the Trimurti system, the creator is Brahma, the maintainer or preserver is Wisnu, and the destroyer or transformer is Siwa. Meanwhile Durga is demon-fighting of Siwa’s wife, Goddess Parwati, as described in Markandeya Purana.

Siwa and Durga Mounted On A Bull

Pralingga Macan is the God’s vehicle in Tiger form. Tiger is the vehicle of Goddess Durga. According to Markandeya Purana, the form of Durga was created as a warrior goddess to fight a demon called Mahishasura. The Goddess Durga rode Her tiger and killed Mahishasura with Her trident.

Pralingga Macan - Flickr

One can learn more about Dewa Yadnya and spirituality at Bali Museum.

By Sapteka, http://www.sapteka.net/